Saya penulis. Saya mencoba menulis apa saja yang ada di pikiran saya. Bukan hanya fiksi, tetapi juga tentang kisah nyata. Apa pun bisa menjadi sumber inspirasi saya. Dari hal kecil sampai besar, semuanya saya tulis. Dan kali ini saya akan menulis tentang kehidupan remaja. Kehidupan yang satu ini memang tidak akan pernah ada matinya. Mereka kaya akan cerita-cerita itu. Tentang kisah-kisah klasik mengenai percintaan, persahabatan, persaingan, kepopuleran. Semua hal itu ada di sini. Dalam sebuah BAND.
Reisya, Agni, Lola, dan Mara memilih untuk pulang. Sambil berjalan menuju gerbang sekolahnya, seperti biasa mereka bergosip dan berhaha ria. Reisya adalah salah satu murid populer walaupun masih berada di kelas satu. Tetapi semua prestasinya di dunia modeling membuatnya lebih mudah dikenal di kalangan teman-temannya dan tentu saja menjadi pujaan bagi para murid cowok di sekolahnya. Tetapi ketenarannya masih sebatas dalam lingkungan sekolah. Untuk dunia model sendiri, namanya masih belum diperhitungkan. Dia masih dalam hitungan pemula untuk ukuran sebagai artis. Cuma sedikit iklan yang dia bintangi. Dan sebagian besar cuma sebagai figuran. Dia juga ikut dalam paduan suara sekolah. Harus diakui, Reisya punya suara emas. Reisya tergolong sebagai murid kalangan atas. Ayahnya adalah seorang pengusaha kayu yang sudah melebarkan sayapnya di dunia internasional. Ibunya adalah seorang penulis novel yang hampir seluruh karyanya menjadi best-seller. Bahkan ada beberapa novelnya yang masuk di pasaran Malaysia dan Singapura. Menteng adalah istananya.
Agni, sahabat baik Reisya. Mereka sudah bersahabat sejak masih SMP. Agni bukan seorang model. Bukan tergolong “the It Girl”. Tetapi dia pun cukup populer di sekolah ini. Bukan karena dia teman Reisya, tetapi dia memang aktif di OSIS dan bergabung di tim basket sekolah. Dia juga bergabung dalam paduan suara seperti Reisya. Agni juga menjadi idola walaupun tidak seperti Reisya. Tetapi Agni lebih punya banyak teman daripada Reisya. Kepribadiannya yang sederhana dan bersahabat membuatnya lebih dekat dengan teman-temannya. Saking sederhananya, tidak ada yang mengira seberapa kayanya keluarga Agni ini. Dia hanya tinggal berdua bersama Ayahnya di dalam rumah besar di bilangan Pondok Indah. Ayahnya seorang jurnalis senior dan juga seorang pelukis. Karya-karya Ayahnya bisa terjual mencapai puluhan juta bahkan pernah terjual senilai seratus juta rupiah. Ayah dan Ibunya sudah bercerai. Dia punya kakak laki-laki yang sekarang hidup bersama Ibunya di Singapura. Ibunya adalah seorang pebisnis handal. Yang juga menjadi partner bisnis Ayahnya Reisya. Kakaknya sekarang sedang kuliah semester satu di NUS.
Lola dan Mara juga bukan cewek sembarangan. Dua-duanya bergabung dalam cheerleader di sekolah itu-dimana Reisya juga ingin ikut di dalamnya untuk meningkatkan kepopulerannya di sekolah-. Saya tidak akan bercerita tentang mereka berdua. Tidak ada yang menarik dari mereka. Dalam cerita ini mereka hanya sebagai pemanis dan pelengkap. So, kita skip saja bagian ini.
“Hahaha masak?? Si cupu itu dikerjain lagi sama Bono?? Kasian banget sich!” kata Reisya. FYI, Bono adalah kapten tim futsal sekolah yang sekarang memang sedang menjalin hubungan khusus dengan Reisya.
“Iya Sya. Bayangin aja dia dikunci dalam gudang yang bau, banyak tikus, kecoa plus gelap. Iyuuuuuwh” kata Lola.
Agni yang dari tadi mendengar obrolan mereka bertiga cuma senyum-senyum saja. Dia tidak tertarik dalam percakapan ini.
“Sya, dapat salam dari Edo. Dia tanya kabar loe” sela Agni.
“Siapa?” tanya Reisya acuh.
“Edo. Temen kita dari SMP. Inget kan loe? Dia pernah juga sekelas sama kita.”
“Oh ya? Anak basket?”
“Bukan.”
“Owhh anak ensemble juga? Ato paduan suara?” tebak Reisya.
“Bukan juga.”
“Emmmm”, Reisya berusaha mengingat-ingat siapa Edo ini, “Jangan-jangan anak olimpiade Fisika itu!”
“Bukan Syaaaa. Itu mah namanya Edwin.”
“Terus siapa Agni??? Dari ekskul mana?” tanya Reisya tidak sabar.
“Dia anak OSIS. Ngurusin masalah mading. Masih nggak inget juga??”
“Ohhhh tau ah” jawab Reisya cuek, “Mana lagi supir gue??”
Kata-katanya pun berhenti ketika dia terpana dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Sebuah mobil sedan berhenti tepat di depannya. Tetapi bukan mobil itu yang membuat terpana. Tetapi pengemudi yang baru saja keluar dari mobil itu. Seorang cowok keren. Tampang indo. Badan atletis. Dan semua kesempurnaan yang ada membuat Reisya tidak mampu berkata-kata lagi. Tapi, bukan kekaguman yang terpancar dari mata Reisya. Lebih tepatnya dia terkejut. Tidak percaya.
“Nggak mungkin!! Kata Reisya yang kemudian berlari menghampiri cowok itu dan memeluknya. Agni, Lola dan Mara hanya bengong melihat kejadian di depan mereka itu.
“Hai Tommy!” sapa Lola dan Mara bersamaan. Agni masih terpaku karena dia masih terkagum-kagum dengan makhluk yang ada di depannya.
“Hai juga.” Jawab Tommy singkat.
“Tommy ini dulu tetangga gue. Tapi abis lulus SD dia pindah ke Perancis buat ikut bokap nyokapnya yang ditempatin di sana. Bokapnya duta besar Indonesia di Perancis. Nyokapnya itu desainer. Dan dress-dress yang gue punya itu kebanyakan hasil karya nyokapnya.” Menoleh ke Tommy, “Gue masih nggak percaya loe nggak bilang dulu ke gue kalo loe mau balik ke Jakarta.”
“Surprise!” jawab Tommy dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Dengan tatapan coolnya yang lagi-lagi membuat tiga cewek di depannya meleleh.
“Tommy tinggal di mana? Di Paris??” tanya Mara genit.
“Yups!”
“Pinter bahasa Perancis donk?” tanya Lola dengan kegenitan juga.
“Lumayan.” Jawab Tommy masih dengan gaya coolnya.
Lola dan Mara masih sibuk menginterogasi dan tebar pesona di depan Tommy. Keduanya berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya. Hanya Agni yang diam seribu bahasa. Baru pertama kali ini dia tidak bisa berkutik di depan seorang cowok. Selama di dekat Tommy pun, Agni merasa degdegan. Agni benar-benar merasa bodoh saat ini. Reisya yang baru sadar kalau Agni hanya diam pun menegurnya.
“Agni! Diem aja loe?!” tegur Reisya.
“Ahhhh” Cuma itu respon Agni. Dia masih tidak bisa menyembunyikan kesaltingannya. Ohh sial! Apa-apaan sich gue?! Batin Agni, “Gue ke toilet bentar ya..” pamit Agni. Yang dipamitin tidak ada yang merespon. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Walaupun percakapan ini pun didominasi oleh Reisya dan Tommy.
Seperti biasa jam dua siang seluruh murid SMA Bina Nusantara International Jakarta pulang. Tidak semuanya langsung pulang ke rumah, ada yang masih sibuk dengan kegiatan ekstrakurikulernya atau cuma sekedar nongkrong atau menggunakan kesempatan ini untuk mojok dengan pacar.Reisya, Agni, Lola, dan Mara memilih untuk pulang. Sambil berjalan menuju gerbang sekolahnya, seperti biasa mereka bergosip dan berhaha ria. Reisya adalah salah satu murid populer walaupun masih berada di kelas satu. Tetapi semua prestasinya di dunia modeling membuatnya lebih mudah dikenal di kalangan teman-temannya dan tentu saja menjadi pujaan bagi para murid cowok di sekolahnya. Tetapi ketenarannya masih sebatas dalam lingkungan sekolah. Untuk dunia model sendiri, namanya masih belum diperhitungkan. Dia masih dalam hitungan pemula untuk ukuran sebagai artis. Cuma sedikit iklan yang dia bintangi. Dan sebagian besar cuma sebagai figuran. Dia juga ikut dalam paduan suara sekolah. Harus diakui, Reisya punya suara emas. Reisya tergolong sebagai murid kalangan atas. Ayahnya adalah seorang pengusaha kayu yang sudah melebarkan sayapnya di dunia internasional. Ibunya adalah seorang penulis novel yang hampir seluruh karyanya menjadi best-seller. Bahkan ada beberapa novelnya yang masuk di pasaran Malaysia dan Singapura. Menteng adalah istananya.
Agni, sahabat baik Reisya. Mereka sudah bersahabat sejak masih SMP. Agni bukan seorang model. Bukan tergolong “the It Girl”. Tetapi dia pun cukup populer di sekolah ini. Bukan karena dia teman Reisya, tetapi dia memang aktif di OSIS dan bergabung di tim basket sekolah. Dia juga bergabung dalam paduan suara seperti Reisya. Agni juga menjadi idola walaupun tidak seperti Reisya. Tetapi Agni lebih punya banyak teman daripada Reisya. Kepribadiannya yang sederhana dan bersahabat membuatnya lebih dekat dengan teman-temannya. Saking sederhananya, tidak ada yang mengira seberapa kayanya keluarga Agni ini. Dia hanya tinggal berdua bersama Ayahnya di dalam rumah besar di bilangan Pondok Indah. Ayahnya seorang jurnalis senior dan juga seorang pelukis. Karya-karya Ayahnya bisa terjual mencapai puluhan juta bahkan pernah terjual senilai seratus juta rupiah. Ayah dan Ibunya sudah bercerai. Dia punya kakak laki-laki yang sekarang hidup bersama Ibunya di Singapura. Ibunya adalah seorang pebisnis handal. Yang juga menjadi partner bisnis Ayahnya Reisya. Kakaknya sekarang sedang kuliah semester satu di NUS.
Lola dan Mara juga bukan cewek sembarangan. Dua-duanya bergabung dalam cheerleader di sekolah itu-dimana Reisya juga ingin ikut di dalamnya untuk meningkatkan kepopulerannya di sekolah-. Saya tidak akan bercerita tentang mereka berdua. Tidak ada yang menarik dari mereka. Dalam cerita ini mereka hanya sebagai pemanis dan pelengkap. So, kita skip saja bagian ini.
“Hahaha masak?? Si cupu itu dikerjain lagi sama Bono?? Kasian banget sich!” kata Reisya. FYI, Bono adalah kapten tim futsal sekolah yang sekarang memang sedang menjalin hubungan khusus dengan Reisya.
“Iya Sya. Bayangin aja dia dikunci dalam gudang yang bau, banyak tikus, kecoa plus gelap. Iyuuuuuwh” kata Lola.
Agni yang dari tadi mendengar obrolan mereka bertiga cuma senyum-senyum saja. Dia tidak tertarik dalam percakapan ini.
“Sya, dapat salam dari Edo. Dia tanya kabar loe” sela Agni.
“Siapa?” tanya Reisya acuh.
“Edo. Temen kita dari SMP. Inget kan loe? Dia pernah juga sekelas sama kita.”
“Oh ya? Anak basket?”
“Bukan.”
“Owhh anak ensemble juga? Ato paduan suara?” tebak Reisya.
“Bukan juga.”
“Emmmm”, Reisya berusaha mengingat-ingat siapa Edo ini, “Jangan-jangan anak olimpiade Fisika itu!”
“Bukan Syaaaa. Itu mah namanya Edwin.”
“Terus siapa Agni??? Dari ekskul mana?” tanya Reisya tidak sabar.
“Dia anak OSIS. Ngurusin masalah mading. Masih nggak inget juga??”
“Ohhhh tau ah” jawab Reisya cuek, “Mana lagi supir gue??”
Kata-katanya pun berhenti ketika dia terpana dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Sebuah mobil sedan berhenti tepat di depannya. Tetapi bukan mobil itu yang membuat terpana. Tetapi pengemudi yang baru saja keluar dari mobil itu. Seorang cowok keren. Tampang indo. Badan atletis. Dan semua kesempurnaan yang ada membuat Reisya tidak mampu berkata-kata lagi. Tapi, bukan kekaguman yang terpancar dari mata Reisya. Lebih tepatnya dia terkejut. Tidak percaya.
“Nggak mungkin!! Kata Reisya yang kemudian berlari menghampiri cowok itu dan memeluknya. Agni, Lola dan Mara hanya bengong melihat kejadian di depan mereka itu.
“Okey girls! Kenalin temen gue dari kecil. Dari gue masih bayi. Tommy.” Kata Reisya girang membuyarkan lamunan teman-temannya yang sekarang mereka sudah duduk manis di dalam kafe dekat sekolah mereka.“Hai Tommy!” sapa Lola dan Mara bersamaan. Agni masih terpaku karena dia masih terkagum-kagum dengan makhluk yang ada di depannya.
“Hai juga.” Jawab Tommy singkat.
“Tommy ini dulu tetangga gue. Tapi abis lulus SD dia pindah ke Perancis buat ikut bokap nyokapnya yang ditempatin di sana. Bokapnya duta besar Indonesia di Perancis. Nyokapnya itu desainer. Dan dress-dress yang gue punya itu kebanyakan hasil karya nyokapnya.” Menoleh ke Tommy, “Gue masih nggak percaya loe nggak bilang dulu ke gue kalo loe mau balik ke Jakarta.”
“Surprise!” jawab Tommy dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Dengan tatapan coolnya yang lagi-lagi membuat tiga cewek di depannya meleleh.
“Tommy tinggal di mana? Di Paris??” tanya Mara genit.
“Yups!”
“Pinter bahasa Perancis donk?” tanya Lola dengan kegenitan juga.
“Lumayan.” Jawab Tommy masih dengan gaya coolnya.
Lola dan Mara masih sibuk menginterogasi dan tebar pesona di depan Tommy. Keduanya berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya. Hanya Agni yang diam seribu bahasa. Baru pertama kali ini dia tidak bisa berkutik di depan seorang cowok. Selama di dekat Tommy pun, Agni merasa degdegan. Agni benar-benar merasa bodoh saat ini. Reisya yang baru sadar kalau Agni hanya diam pun menegurnya.
“Agni! Diem aja loe?!” tegur Reisya.
“Ahhhh” Cuma itu respon Agni. Dia masih tidak bisa menyembunyikan kesaltingannya. Ohh sial! Apa-apaan sich gue?! Batin Agni, “Gue ke toilet bentar ya..” pamit Agni. Yang dipamitin tidak ada yang merespon. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Walaupun percakapan ini pun didominasi oleh Reisya dan Tommy.
menarik banget Er,,,bner bner asyk di baca, danz
ReplyDelete