Reisya dan Tommy terlibat percakapan di dalam mobil Tommy yang sedang melaju di jalanan Jakarta siang itu. Sehari setelah mereka bertemu di sekolah waktu itu, mereka janjian untuk jalan berdua, melepas kangen. Tommy sepakat untuk menjemput Reisya di sekolah dan melanjutkan perjalanan menuju PIM.
“Oke! Yang tadi itu bener-bener norak, Tom. Bukan gaya loe banget pake acara sok cool, malu-malu di depan cewek-cewek itu. Gue tau loe banget. SD aja loe dah bisa tebar pesona dan ngegombal” kata Reisya sambil memutar CD player mobil Tommy.
Tommy hanya tersenyum mengiyakan. “Itu taktik, Rei” jawab Tommy singkat. Dari semua teman Reisya, hanya Tommy yang memanggil cewek itu dengan sebutan Rei.
“Nggak pernah berubah.”
“Iye! Sama kayak loe. Gue pikir loe bakal berubah jadi cewek kalem, down to earth. Tapi masih gini aja loe.”
“Maksud loe??” tanya Reisya.
“Loe nggak ngerti apa pura-pura nggak ngerti?! Obsesi loe jadi artis besar bikin loe jadi sok berkelas di depan temen-temen loe. Emang gue nggak liat tadi di sekolah, loe sok-sok-an jadi kayak princess wannabe gitu. Sok-sok acuh, sok-sok nggak peduli. Loe itu terlalu pilih-pilih cari temen. Cuman itu-itu aja kan temen-temen loe. Dari email-email loe, cuma itu-itu aja yang loe ceritain. Dan terbukti cuma orang yang jadi pengikut setia loe,” kata Tommy panjang lebar.
Reisya yang diajak bicara sengaja tidak mengubris perkataan Tommy. Dia malah asyik melihat-lihat jalanan Jakarta dari jendela mobil sambil melahap cemilan buah yang selalu ada di dalam tasnya. Dia selalu menjaga berat tubuhnya. Profesinya sebagai model menuntutnya untuk menjaga pola makannya. Karena dietnya yang ekstrem, dia bahkan pernah dikira mengidap anoreksia. Merasa tidak diperhatikan dari tadi, Tommy meneriakkan nama Reisya tepat di telinga cewek itu.
“REISYA!!!”
“Apaan sich??” bentak Reisya balik, merasa ketenangannya terganggu dengan suara Tommy, “bisa nggak sich nggak teriak?? Ini mobil kali. Spacenya kecil. Loe ngomong pake volume normal aja, gue masih bisa denger,” gerutu Reisya dengan mulutnya yang manyun-manyun.
“Jawab kalo denger,” Suara Tommy sudah kembali normal.
“Gue males nanggepin pidato loe. Nggak di email, di telpon, sms semuanya cuma bahas masalah temen yang gue punya. Gue heran, loe jauh-jauh ke Paris buat sekolah pidato yah?!”
Seperti biasa, Tommy memasang tampang innocentnya. Konsentrasinya teralih pada jalan Sultan Iskandar Muda yang siang itu memang macet parah.
“Lagian gue juga nggak masalah dengan jumlah temen yang gue punya,” lanjut Reisya, “buat gue, yang terpenting itu mereka kenal gue. Bukan gue yang mesti susah payah kenal mereka.”
“Terserah loe aja dech,” kata Tommy pasrah, “kenapa sich niyh jalan macet banget?? Gini caranya nggak nyampe?? Lapeeeerrrr....” gerutu Tommy.
“Namanya juga Jakarta,” jawab Reisya menanggapi Tommy, “Udah lupaaaaa??”
Tommy tampak mengacuhkan perkataan Reisya. Matanya berbinar-binar seperti menemukan harta karun. Dia melihat ada MC’D drive-thru. Langsung saja dengan nafsu yang sudah tidak terbendung, dia menepikan mobilnya di depan MC’D.
“Eh bilangin masnya. Burger 2, kentang 2 sama colanya yang ukuran gede!” pinta Tommy pada Reisya.
“Gile! Laper apa doyan bang??” goda Reisya.
“Lho loe nggak mau?”
“Ya nggak dong. Gue kan mesti jaga pola makan gue.”
“Oh iyeee loe kan anoreksia,” ejek Tommy dengan ketawa-tawa geli, “jangan dibatalin! Mumpung gue lagi laper!” perintahnya.
Sambil menunggu pesanan, mereka pun melanjutkan obrolan yang sempat terputus karena perut Tommy yang tidak bisa diajak kompromi. Tommy membuka obrolan dengan menanyakan gimana hubungan Reisya dengan pacarnya, Bono-kapten futsal di sekolahnya-. Bono dan Reisya sudah berpacaran selama dua bulan. Ceritanya si Bono yang sebenarnya seniornya Reisya sudah naksir berat sejak Bono menjadi kakak pengampunya saat MOS. Bono mulai gencar pedekate. Bahkan Reisya mendapatkan perlakuan istimewa dari Bono saat MOS berlangsung. Kalau murid-murid baru harus digembleng dan sedikit dijahilin, Reisya tidak pernah merasakannya. Reisya mendapat perlindungan penuh dari Bono. Siapa juga yang berani dengan Bono?
Bono adalah murid yang sering melakukan bullying di sekolahnya. Targetnya, tentu saja murid-murid yang cupu, kuper dan aneh. Korbannya sudah tidak terhitung lagi. Bono juga sering menjadi pengunjung setia Ruang BK karena kelakuannya. Tapi semua itu tidak pernah membuatnya jera. Malah membuatnya makin menjadi-jadi. Di sekolah itu cuma satu orang yang berani dengan Bono. Dira-sang ketua OSIS- yang sekaligus kapten tim basket. Mau tahu tentang Dira?? Sabarrrr
Sebenarnya Reisya eneg juga melihat tingkah Bono yang sok bossy dan membuatnya emosi. Tapi tetap, Reisya melihat semuanya dari segi keuntungan yang akan dia dapat jika berpacaran dengan Bono. Bono termasuk golongan murid kalangan atas dan terkenal seantero sekolah. Jelas itu akan memuluskan jalannya menjadi the “It Girl” di sekolahnya. Dan terbukti, selain ditunjang dengan profesinya sebagai model, dengan berpacaran dengan Bono berhasil membuat Reisya menjadi Princess of School. Tapi ternyata memang benar. Sabar memang ada batasnya.
“Gue udah nggak tahan pacaran sama Bono. Serasa pacaran sama preman, tau nggak?!” kata Reisya saat mobil Tommy mulai melaju meninggalkan MC’D.
“Good! Cari cowok yang bener napa??” kata Tommy setuju.
“Tapi bingung juga gimana mau mutusin. Gue takut. Nanti kalo dia terus ngroyok gue karena nggak terima gimana?”
“Dodol! Nggak mungkin lah..”
“Amien!! Kata Reisya penuh harap, “Eh kalo loe? Berapa cewek di Perancis yang udah kena rayuan gombal loe??” lanjut Reisya.
“Berape yee??” kata Tommy mengingat-ingat, “Lupa!”
“Ah pelit loe. Nggak bagi-bagi. Pas ngobrol lewat email juga. Loe nggak pernah cerita cewek-cewek loe di sana. Masak iya Tommy Revan Dharmawangsa nggak berhasil naklukin cewek Perancis barang satu pun,” gerutu Reisya.
“Nothing special,” kata Tommy yang sedang berkonsentrasi pada lalu lintas yang sedang tidak bersahabat siang itu, “Yeee akhirnya nyampe!” teriak Tommy kegirangan karena sudah tidak betah berlama-lama berkutat di jalanan Jakarta yang memang menguras banyak emosi ini.
***
“Loe kelaperan ya?” tanya Reisya keheranan melihat sahabatnya yang sedang menyantap makan siangnya ronde kedua, “Perasaan tadi loe udah makan di mobil.”
“Biarin!” jawab Tommy acuh, “Loe makan juga kek! Gue nggak tega ngelihat badan loe yang kayak keripik gitu. Atau loe beneran anoreksia??” selidik Tommy.
“Sialan! Badan gue kurus karena diet sehat gue. Gue emang bener-bener jaga pola makan gue. Malu dong model badan dobel!” jawab Reisya.
“Makan dikit kek! Nemenin gue. Ya? Ya?” rengek Tommy.
“Oke dech,” Reisya pasrah dengan permintaan Tommy, “Gue cari salad dulu dech,” kata Reisya lalu bangkit dari kursinya dan mencari tempat salad bar.
Tommy yang ditinggal sendiri memutuskan untuk berkonsentrasi kembali dengan sajian makanan di depannya. Tapi ternyata konsentrasinya terpecah melihat seorang cewek yang duduk di seberang mejanya. Cewek itu juga memakai seragam yang sama dipakai oleh Reisya. Cewek itu cantik banget. Itu yang ada di pikiran Tommy saat itu. Apalagi cewek itu tersenyum pada Tommy. Membuat Tommy mabuk kepayang. Dengan jurus andalannya, Tommy memperlihatkan senyum nakal dan menggodanya.
“Lama amat sich?” tanya Tommy pada Reisya yang sudah kembali lagi di kursinya dengan membawa salad favoritnya.
“Antri,” jawab Reisya singkat yang tanpa ba-bi-bu langsung menyantap salad di mejanya.
“Eh gue dapet gebetan baru. Dia anak Binus juga. Cantik banget. Loe mah lewat..” cerita Tommy.
“Oh ya? Ada yang nyaingin gue? Ketemu di mana?”
“Ya di sini lah. Gue kan nggak kemana-mana,” jawab Tommy.
“Namanya?” tanya Reisya.
“Gue bilang pun ke loe, gue nggak yakin loe bakal kenal. Model kayak loe..”
“Terus mana orangnya?” tanya Reisya sambil celingukan melihat meja sekitarnya dengan maksud akan menemukan cewek yang memakai seragam yang sama dengannya.
“Udeh pulang. Gue dapet nomernya,” kata Tommy kegirangan, “Oh ya. Gue mau ngomong penting niyh sama loe,” lanjut Tommy mengganti topik pembicaraan.
“Apaan? Mau langsung ngelamar tuch cewek?” tanya Reisya bercanda. Tapi Tommy sedang tidak ingin bercanda. Terbukti dengan tatapan galaknya untuk Reisya, “Oke! Apa?” tanya Reisya serius.
“Gue.....”
“Jangan bilang loe mau nembak gue!” potong Reisya.
“Rei!” bentak Tommy. Reisya Cuma cengar-cengir, “Gue pengen bikin band!” lanjut Tommy.
Reisya yang baru saja mendengar perkataan Tommy, menghentikan acara makannya. Dia melotot keheranan dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Ini Tommy kan?” tanya Reisya.
“Hei! Dengerin gue dulu. Gue tau ini kedengaran gila dan nggak-gue-banget. Tapi gue emang pengen bikin band. Malah dari gue SMP. Tapi gue nggak bisa bikin band di Perancis. Gue bingung sama bahasa mereka,” jelas Tommy.
“Terus?”
“Gue pengen minta bantuan loe buat rekrut orang-orang yang emang kompeten di bidang musik. Karena loe tau gue belum punya banyak temen di sini. Plus gue juga nggak sekolah umum kayak loe. Gue kan home-schooling. Dan ada permintaan gue khusus buat loe,” Tommy menarik nafas di sela pembicaraannya, “Gue pengen loe jadi vokalis di band gue ini,” pinta Tommy.
“Gue juga nggak tau siapa orang yang bisa maen musik. Kalo di sekolah gue, jelas anak ensemble. Cuman gue nggak yakin musiknya cocok apa nggak di band loe. Soalnya musik yang mereka bawain kebanyakan emang musik klasik. Dan soal gue jadi vokalis. Loe gila?!”
“Hah? Gue serius, Rei. Suara loe kan bagus dan gue rasa suara loe lebih cocok buat jadi vokalis band daripada ikut paduan suara di sekolah loe itu,” kata Tommy.
“Tommy denger! Gue model. Dan gue pengen jadi artis besar yang bakal loe lihat terus di film, sinetron, iklan, majalah-majalah dan jadi model video klip. Dan gue rasa gue nggak cocok di band yang identik dengan orangnya yang cuek, nggak tanggap sama fashion. Gue pengen jadi artis yang berkelas. Sorry, Tom. Loe cari orang laen aja!” jawab Reisya panjang lebar.
“Tapi kan....” Tommy memutuskan untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Karena menurutnya percuma debat dengan Reisya saat ini. Obsesi Reisya jadi artis besar memang membuat Reisya merasa cuma dengan orang-orang yang terlihat glamour dan high class, dia merasa cocok. Apalagi kelihatannya Reisya kembali melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Itu artinya, dia tidak ingin diganggu dan menghentikan pembicaraan. Tommy hanya diam dan berpikir bagaimana caranya bisa membuat Reisya meng-iya-kan ajakannya untuk bergabung dengan band yang ingin dibentuknya.
No comments:
Post a Comment